Kemiskinan karena Malas ??

  • 22 Februari 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 1720 Pengunjung

Hari/Tanggal
:
Minggu, 22 Februari 2015 s/d Senin, 00 00 0000
Tempat
:

          KALABAHU hari ini (23/2) dibuka dengan apik dengan menghadirkan Dekan Faultas Hukum Universitas Warmadewa, YLBHI, Direktur LBH Bali serta pendamping-pendamping dan peserta dari LBH Bali, LBH Surabaya dan LBH Yogyakarta. Peserta KALABAHu terlihat sangat antusias di awal acara dengan tidak terlihatnya bangku yang kosong. pelatihan ini dibuka dengan materi Kemisinan Struktural dan Ketidakadilan Sosial dalam Perspektif Bantuan Hukum Struktural oleh Boedhi Wijardjo.  Ketika muncul pendapat yang menyapuratakan bahwa orang miskin karena ia malas, tetapi jika mengambil contoh petani yang bekerja 8 jam kerja bahkan lebih tetapi tetap misin maka timbul pertanyaan apakah petani miskin karena petani itu malas? maka jawabannya tidak, petani miskin karena dalam tatanan struktural sistem perekonomian ia menjadi pihak terlemah, walaupun petani sudah bekerja keras namun petani akan tetap miskin ketika ia masih dimiskinkan oleh struktural. kemisinan struktural bisa disebabkan oleh dominasi, diskriminasi, eksploitasi, konflik, bencana alam. Kemiskinan dan keterbelakangan suatu masyarakat karena bermainnya kekuatan luar yang dominan dan eksploitatif. Ini bisa terjadi akibat hubungan antar  Negar a (foreign interaction) di dunia, juga antar kelompok masyarakat dalam suatu Negara. Hal bisa muncul disebabkan adanya kekuatan faktor luar yang menjajah dan mengeksploitasi suatu bangsa atau Negara tertentu yang tidak bisa “dilawan”(vulnerability). Basis kapitalisme ialah privat liberalisem (siapa yang kuat dia benar), kapitalisme yang menentukan segala sesuatu yang benar. Pemerintah sejak jaman Soeharto sudah menjadi pengabdi dari kaum Kapitalisme, pertanyaannya apakah kita makmur sekarang ketika kita menjadi pengabdi kaum Kapitalisme? bukan masalah ikut ataut tidak ikut menjadi Kapitalisme, tetapi yang harus dilakukan bagaimana merubah strategi. apabila dikatakan kita harus mengikuti gaya Amerika yang Kapitalisme, dalam kenyataannya Indonesia jauh lebih kapitalisme yang menetapkan pajak pada setiap hal.


  • 22 Februari 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 1720 Pengunjung

Agenda Terkait Lainnya